twenty eighteen



bonne nouvelle année!

2017 berakhir dengan hari-hari libur setelah satu bulan yang terasa sangaaaaat lambat, hampir selambat bulan puasa menjelang libur lebaran. ada sejumlah pengecualian, tentu, yang membuat beberapa hari di desember berlalu dengan cepat misalnya bunyi pesan datang menjelang tengah malam dan tanggal-tanggal merah yang selalu terlewat lebih lekas dari mereka yang dicetak hitam.

keluh.

kamu tahu sindroma pasca-libur? aku yakin banyak di awal januari ini yang terjangkit, apalagi setelah jadi tikus kantor yang bisa merayakan kebebasan sepele bersepatu kets dan berpakaian suka-suka selama kucing-kucing berwisata.

selamat tinggal waktu luang di hari-hari lambat.

ini juga berarti melambaikan selamat tinggal kepada celah-celah kecil yang tanpa sengaja kamu gunakan untuk meninjau ulang dan menyesali hidup, atau, mari gunakan istilah yang lebih bergaya: introspeksi, meski hasil akhirnya mungkin sama saja yakni kesadaran bahwa waktumu telah banyak terbuang. mungkin tidak sia-sia, mungkin kamu telah lebih siap untuk menghadapi keseharianmu.

tapi, aku, mulai merasa sedikit robotik jadi aku, bertekad di tahun baru ini aku, harus kembali punya hobi. entah menghidupkan atau melanjutkan yang lama, atau mencari yang baru. yang jelas aku rindu nonton konser, hahahahahah. apeu.

baiklah.



Advertisements

kaleidoskop



selama satu pekan terakhir saya membaca seluruh tulisan sejak saya memulai blog ini. beberapa teramat memalukan, tapi, ada juga yang membuat saya takjub dan ingin memuji diri sendiri (mahahahahahah).

lebih banyak lagi tulisan yang membuat saya mengernyit, berusaha mengingat apa yang saya tengah alami dan rasakan saat membuatnya; di manakah saya – secara jasmani dan rohani – saat itu sedang berada. rasanya lucu sekali melihat sejauh mana saya sudah berubah, kapan dan kenapa saya mengubah cara berpikir, dan di bagian apa saja saya tetap sama (cue: aku masih seperti yang dulu).

awalnya saya hanya penasaran, mengapa ada orang-orang yang bisa menghapus bukti atas sebuah memori, misalnya album foto atau tulisan lama, lalu membuat kerangka baru hanya karena itu sudah berlalu.

ya memang, gampang saja, dia sudah moved on dan tinggal klik, selesai, tapi saya tetap tidak habis pikir. apakah kenangan memang sebegitu tidak ada artinya bagi sebagian orang? atau, seperti apa yang saya rasakan saat membaca tulisan-tulisan lama: terlampau memalukan? atau menyakitkan?

lalu sambil membaca, saya juga melakukan hal yang sama: mulai mengedit diri sendiri. hapus. hapus. hapus.



awal yang baru is a new beginning



saya tidak ingat dengan pasti kapan terakhir saya menulis dalam bahasa indonesia.

mungkin november atau desember 2010, beberapa minggu sebelum atasan di tempat saya bekerja saat itu mengumumkan bahwa kantor kami akan tutup karena sejumlah alasan, meski saya ingat pernah menulis pengantar pribadi untuk sebuah pameran dan satu artikel lepas mengenai aktivitas liburan di jakarta, beberapa bulan setelahnya.

(baru dua paragraf dan saya sudah berpikir untuk melanjutkan dalam bahasa inggris)

rasanya, ini yang terjadi (waspada apologi): saya sudah terlalu terbiasa menjadi penyunting dan lupa bahwa menulis (atau menggambar, hahaha *keluh*) bukanlah kemampuan yang bisa dipanggil begitu saja saat perlu atau kepengin.

saya bisa saja dengan sombongnya mengkritik (sambil berharap bisa kaya dari bayaran saat menemukan kesalahan penulisan) berita, teks foto, status di media sosial, artikel blog, dan lain-lain, namun, saya ragu jika sekarang saya bisa menulis satu saja artikel panjang yang padu dan menarik dari nol.

rasa bangga ketika saya dianggap sebagai salah satu penulis karangan khas yang baik saat kuliah atau awal bekerja, hampir 10 tahun lalu, kini tinggal kenangan. mungkin rasanya seperti tokoh-tokoh di novel arus balik merayakan kejayaan majapahit di kawasan asia tenggara yang telah jauh berlalu.

banyak sekali kata dalam bahasa indonesia yang kini tidak saya pahami. banyak sekali aturan dasar penulisan dalam bahasa indonesia yang saya lupa.

solusinya sudah pasti: memulai lagi lalu latihan. latihan. latihan, karena sesungguhnya saya amat suka menulis apa saja dalam bahasa indonesia. satu cita-cita mulia (tapi biasanya, realisasi paria). there, i doubt myself again.



there are too many candles in your cake



we were watching a movie in which the main character is on a drinking binge when he said, it’s been too long since we last drank. i replied that we are no longer in a crowd that does some crazy stupid nights out anymore, which he agreed to and then added that he now just wants to get home soon after office. was it the first sign that we are being sucked further into life, i don’t know. possibly, maybe.

… it’s been too long since i last dreamt. during a chat i remember that when i was still studying years ago i just wanted to attend a convenience shop while working part time as translator at that city. i remember the simple pleasure i get just by walking down the grocery and snack shelves although, yes, that was from the consumer’s point of view.

i remember the people spent their weekends at the park near that particular store, the music i was listening, the spirit, the crimethinc. haha, the bottles of five-percents or the cups of hot milo. the free concerts and the efforts to watch that band.

last night i ran into my old life,” and i wonder where/who/what am i now, more than a decade after?

oh, the grim tone. i quite like the confidence that i am having now, thanks to the daily pressure forces me to ensure that my brain must not stop working. but, i just need to question myself once in a while, i guess.



the pressing needs -or lack thereof



six new plants were commissioned last year, bringing an additional 14 million tons capacity that if combined with previously existing factories create over 40 million tons glut above national demand. at the same time everyone including a former environment ministry is talking about ecological degradation on the main island –initially and naturally the country’s main food/agriculture production center– that has reached critical point, calling for an end to the expansion of such dirty industry along with ammonia- and sodium bicarbonate-based industries. priorities, ladies and germs.